Cookies help us deliver our services. By using our services, you agree to our use of cookies. More Info


Today is my second day in Taiwan. So sorry that I have been late to make a posting.
Yesterday, I had my flight from Singapore Changi Airport to Taipei Taoyuan International Airport. I took me about 4,5 hours. It's so boring at first. But, I met my chair-mate in flight who is a Taiwanese. So, I was asking him for information about Taiwan. Then, he gave me so much good information for me, from the situation to the food and the place of interest. My boring was just like the trash to be thrown away. Taiwanese is very friendly. I have proved it by myself after one of my senior told me before.

I arrived at Asia University (亚大 - My campus) was at about 7.30 pm and the departure using bus was at 4.30 pm. It supposed to be at 3.00 pm to start moving to AU. So, it's also a great to be. I found international students who will also take the Spring semester courses like me. But, most of them are going to take the exchange study. And I was shocked at the airport in case of I was the only one Indonesian to be there. After we have met each other and gathered together, so we moved to AU by bus (provided by campus). I made friends with Thai (5 ppls), Indian (3 ppls), and 1 Korean. Arriving in my campus, we're introduced by the International College staff to the dorm and directly got into our room. I dunno whether it's lucky or not, I have the room with 3 Taiwanese. All is very friendly, too. I guessed I will get the room with international students. After all of the administrations done, I gotta meet with my senior that has been helping me for so long. This was my first time to meet them, too. We have been contacted each other just by using the facebook and Line. Hehee.... But, it's okay.

The meeting ended, I got back to my dorm. I was feeling likes a dream when I was there. Because the weather and the situation in environment is not the same with Indonesia. It's just like what we have seen in the television mostly. The building and even the apartment are covered by the stone (something like that) for their wall. Then, coming to the dorm, I arranged all my stuffs well and going to sleep.

At the morning today (26 Feb 2015), I was shocked again of the schedule given by the campus. I remembered that I'll have the orientation in my campus at 1 pm today. Obviously, I was mistaken to keep the schedule in mind. When I got up in the morning, I was suddenly recalled by something that I'll have another schedule to make. I was in hurry to see the appointment and directly going to the International College for the schedule of 9.00 am (I got up at 9.04 am). And so sorry, unfortunately, I got my wrong schedule that there is a newest schedule given to me before in the airport. Sigh... After that, I just walked back to my dorm. On the way home, I met my friend who are from Thailand. And I asked them about that and the answer was we have no schedule today. In my mind, "Are you kidding me?". This bad experiences brought me to meet another new friend from France.
Ti (Thailand), Victor (France), Me, Ton (Thailand)
I was asking to join them to Taichung City (We can say it is the capital city for Taichung District). It would be very nice things to get there. So, I joined with them. In Taichung City, I was looking for some needed items to my dorm. Then, This is the photo we were taken on the bus.
Below: Jenny (Taiwan), U (Thai), E'(Thai), Phim (Thai)
Above: Ton (Thai), Ti (Thai), Victor (French), Me (Indonesian)
So sorry, I'm going to sleep now. Gotta post another then. Bye...
Saya langsung contact senior yang di Asia University, mengabari tentang masalah ini. Dan disarankan untuk mengambil tes lagi. Waktu itu karena uda juni, dan tes TOEFL ITP di Jogja cuma 2 kali sebulan. Jadi saya harus mengikuti tahap berikutnya di tempat lain (UGM) bulan Agustus awal, karena tes di bulan Juli sudah habis kuota. Memang agak sedikit mahal sih Rp375.000,  mau ga mau harus tes lagi. Sebelum tes TOEFL ITP di UGM, saya juga coba tes di P2EB UGM. TOEFL Like test tapi. Nilainya malah lebih bagus 507. =D

Wisuda saya akan diadakan di akhir Agustus, jadi saya harus sudah selesai menyiapkan semua berkas sebelum wisuda, karena setelah wisuda harus mengantar ortu balik ke Kep. Riau lagi. Jadi, I just had only one chance to bet for the score. I had been praying all the time before and after the test. Dan juga belajar mati-matian (TOEFL di ELTI kemarin sih ga belajar). Pada saat pengambilan nilai, saya minta bantu ke teman saya (Arifin) untuk ambilin. Dan kekecewaan yang kedua kali muncul lagi... Tes TOEFL ITP kedua ini malah cuma dapat 490. What the %@&($... Pasrah sudah deh.. Dan konsultasi lagi dengan senior.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk melampirkan nilai TOEFL ITP yang 497 dan semua hasil TOEFL Like test ke dalamnya. Untuk surat rekomendasi sudah disipakan sebelum tes TOEFL ITP yang kedua, jadi saya sudah mendapatkan surat rekom dari Ketua STMIK AMIKOM (Rekor) dan dosen yang pernah mengajar saya sebelumnya. Carilah dosen yang dekat dengan Anda yaa... Biar gampang mintanya... Heheheee....

Setelah TOEFL Score, Surat Rekom, Study Plan, Scan Ijazah dan Transkrip nilai, dan Financial Statement fixed, saatnya siapkan CV (klo bisa didesain secantik mungkin) dan scan sertifikat prestasi baik akademik maupun non-akademik, lampirkan beberapa yang sekiranya bisa mendukung. Kalo ada sertifikat juara lebih bagus. Lalu, setelah semuanya selesai, saatnya di-compress ke dalam 1 file pdf. (*Oh ya, teman-teman juga harus siapkan paspor sebelum mau daftar. Karena kita harus lampirkan fc paspor). Semuanya sudah selesai, dan uda di dlm 1 pdf, saatnya filenya dikirim ke Center for International Academic Exchange (CIAE) *kalo di Asia Univ.

Setelah file application berformat pdf dikirim melalui email, lalu kita harus mengirimkan hardcopy semua document ke alamat kampus tujuan. Karena saya daftar untuk Spring Semester, jadi saya harus mengirimkan sebelum deadline. Saat itu, saya mengirimkan sekitar pertengahan bulan September 2014 (Deadline October 31 annually).
Deadline of Submission
Saya mengirimkan dokumen saya melalui pos Indonesia yang khusus ke Luar Negeri (EMS kalo ga salah), harganya cukup mahal. Hanya dokumen saja, saya menghabiskan biaya sekitar Rp160.000. Tapi, lama perjalanan ke alamat tujuan hanya sekitar 3 hari kerja. Cepat sihh....

Ok deh...This is the end of my processes to apply scholarship to Taiwan.
Mudah2an menginspirasi dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.

Don't think about FAILURE. Just think about how you make your job done well... All is Well... =)
I'm sure everyone will have the same feeling whenever we want to take action for any scholarships. Scholarship has been a scary things. Tapi, hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin sama sekali untuk didapat. Sebenarnya ada banyak sekali beasiswa yang disediakan oleh negara kita Indonesia dan juga dari luar negeri. Sekarang pemerintah juga telah menyediakan beasiswa yang namanya LPDP diselenggarakan dari Kementerian Keuangan. Dan LPDP ini malah memberikan fasilitas kepada calon penerima mahasiswa untuk kuliah ke universitas-universitas favorit yang ada di seluruh dunia. Nah, saya ingin berbagi pengalaman saya, kenapa saya bisa mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri khususnya di Taiwan. Dari mana saya mendapatkan beasiswa ini? Apakah dari Pemerintah Indonesia? Atau dari mana?

Pada awalnya, bagi saya, untuk mendapatkan beasiswa apalagi beasiswa luar negeri merupakan suatu hal yang sulit sekali. Bahkan saya tidak pernah berpikiran untuk melanjutkan S2 pada saat saya melanjutkan studi S1 di Jogja. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya (Baca), saya bisa muncul ide tsb hingga saya berani untuk mencoba mendaftarkan diri ke salah satu universitas yang ada di Taiwan (Asia University of Taiwan) adalah seperti itu. Pada awalnya saya hanya sekedar iseng untuk mendaftar setelah terinspirasi oleh salah satu dosen saya, Pak Nurhayanto. Kebetulan kampus S1 saya STMIK AMIKOM Yogyakarta ada menjalin kerjasama dengan Asia University... Jadi, pada saat saya daftar, saya hanya berharap aja mana tau bisa lolos karena ada kerjasama kan ya... Bagi yang mau coba daftar, bisa nii cari tau dulu kampus Anda ada kerjasama dengan kampus mana aja...

Pertama sekali, kita tentunya harus mencari tau tentang calon kampus yang ingin kita daftar yaa. Tidak boleh asal daftar aja. Walaupun kita iseng, kita tetap harus serius dalam menjalani semua prosesnya. Iseng tidak berarti tidak pake usaha LHO... 

Jadi, step saya yang pertama setelah mendapatkan info beasiswa dari dosen dan seniorku, saya langsung buka website internasional yang disediakan oleh kampus. Yaa, walaupun aku keturunan Chinese, saya juga sama seperti orang Indonesia lainnya, tidak mahir membaca tulisan mandarin (中文).  Taunya dikit-dikit aja. Website yg saya buka adalah ciae.asia.edu.tw. Di sana, saya mengumpulkan informasi syarat-syarat  pendaftaran baik pendaftaran sebagai mahasiswa maupun beasiswa. Saya mulai mencari tahu info ini dimulai dari akhir 2013. Dan sudah mulai download form admission. Tapi, sempat pasif juga sih karena faktor ingin mengerjakan skripsi. Target saya lulus S1 sebenarnya 3,5 tahun loo.. Cuma, dari atas berkata lain. Akhirnya saya lulusnya juga 4 tahun kurang sedikit di bulan Agustus 2014 lalu. 

Untuk bisa kuliah ke luar negeri tidak seperti flashlight yang ketika kita buka, langsung bisa dituju ke objek yang kita tuju dan langsung diterima dan memberikan feedback bahwa sudah diterima. Kita butuh persiapan juga jauh-jauh hari. Jadi, saya bener-bener siapin dokumen saya mulai sekitar bulan Juni 2014 setelah lulus pendadaran/sidang skripsi. Ketika itu, ternyata form pendaftaran yang sudah saya download sebelumnya sudah hilang ga tau kemana. Padahal formnya itu sudah saya isi sebagian, iseng tapi niat banget kannn....
Jadi akhirnya saya harus download kembali formnya. Sejak itu, saya langsung bikin folder khusus di laptop saya supaya bener-bener bisa saya daftarkan.
Folder Management walaupun kelihatan kacau sekali
Inilah folder yang saya bikin supaya semangat. Dan awalnya tidak ada subfolder sebanyak itu, cuma ada form "ApplicationformsAU" aja. Langsung saya isi walaupun ada beberapa bagian yang saya harus siapin dulu, seperti essay for scholarship dan essay for study plan. 

Lalu, sambil berpikir essay yang harus saya tulis seperti apa, saya juga harus googling untuk mencari tau essay for applying scholarship abroad bentuknya seperti apa dan sistematika penulisannya harus seperti apa. Dan saya mumet juga bacanya punya mahasiwa lain yang telah diterima di Taiwan. Kita butuh mencari banyak banget referensi yang ada di Google. Bahkan kadang saya bolak-balik hanya mendapatkan link yang sama. Capek dehh... Hehee... 

Dan pada saat saya persiapan dokumen (syaratnya harus dilihat di website kampus tujuan yaa), saya langsung add Facebook Fan Page "PPI Taiwan", padahal statusku juga belum jelas yoo... Mau dibilang mahasiswa sana juga bukan. Tapi, saya hanya ingin tau aktivitas mereka yang kuliah di Taiwan gimana. Sempat saya add sembarang orang-orang yang ada di Fan Page tersebut. Hahahaa....

After downloaded the application form, langsung saya persiapkan toefl segala macem. Kebetulan TOEFL Score juga merupakan syarat yudisium supaya bisa wisuda. Cuma kampus saya hanya mensyaratkan 350 untuk score TOEFL sebagai syarat lulus. Sangat jauh dengan syarat masuk kampus luar negeri 500, Broo... XD Gilekk... Dan saya juga belum pernah ikut TOEFL test kan ya, taunya uda sejak SMA sih. Tapi, dalam bayangan saya, untuk mendapatkan nilai tinggi di TOEFL sangat sulit, ga seperti Ujian Nasional... Hahaa....

Dan saya ikut TOEFL Test bersama teman2 seperjuangan saya yg juga mau ngurus yudisium. Waktu itu tesnya di Universitas Islam Indonesia (UII) bayarnya sekitar Rp60.000 kalo ga salah. Besoknya saya ambil sertifikatnya, wahh... Saya pas banget dapet 500 nilai TOEFL. Ga tau kenapa, Reading sulit bangettt.... Walaupun sebenarnya Listening saya nilainya selalu lebih rendah daripada Reading Section. 

Uda bersyukur bisa dapat 500 sesuai syarat minimal pendaftaran. Tapi, sayangnya, syarat daftar adalah menggunakan TOEFL ITP (Institutional) yang asli. Sekali tes menghabiskan kantong sekitar Rp360.000. Woww... Jadi, setelah tes di UII, saya mencoba untuk tes yang asli di ELTI Gramedia dekat belakang Gramedia Sudirman Jogja. TOEFL ITP ini setelah tes harus menunggu sekitar 10-14 hari untuk mendapatkan hasil. Makanya, kita harus persiapan jauh-jauh hari. Karena klo mepet harinya dan nilai toefl yang keluar tidak memenuhi syarat, kita harus tes lagi.
Lalu, saat saya mendapatkan hasil Tes TOEFL ITP, mmm... Sangat kecewa banget.... Score TOEFL cuma 497... Whatt!!! Kurang 3 nilainya uda 500. Langsung down melihatnya...

Hey, I'm coming again...
It would be a very nice day to all of you today....
I'm just counting down for the Chinese New Year to come. 3 days to go. Look forward to see my family gathering on that day. Hahaa...

This morning, I spent some of my time to get my documents prepared. And I caught one of my favorite foods when I was in High School, so I stopped at the shop to buy it some. It's called "Roti Goreng" (Bread Fries?? Or Fried Bread?? I hv no idea with the name). I have never found it at any places in Indonesia, believe it. But, I dunno whether you can find it in your town or country.

Roti Goreng @ V Shop Tanjungbatu

It tastes so good... It's served with the chili sauce mixed with mayonnaise. It's very crisp... Minced chicken meat inside the Roti Goreng makes it taste well...

Well, forget the snacks. Today, I want to continue my blog I left last night.
I have shared about the beginning process to prepare for university admission, right. All you need to prepare is TOEFL ITP Score with min. score 500 at first. I've taken TOEFL ITP twice. And before I got my TOEFL ITP, I'd tried to take some TOEFL Like. If u are already familiar with the questions provided in TOEFL, just go for your TOEFL ITP Test. For my first TOEFL Like test, I got 500, no more and less, just 500. Second one, I got 520 taken at my college. And the last TOEFL Like, I got 507 taken at Gadjah Mada University. But, when I took TOEFL ITP, fortunately, I just achieved 497. >_< 3 points more to make it 500. Really really makes me fainted.

But, it didn't make me down. I still kept my spirit to go on. Then, I prepared my another documents. Every university has their own requirements. I was going to enroll to Asia University of Taiwan (the same university with my lecturer Mr. Nurhayanto and seniors David and Fitri), so the requirements would be like that (see above pict):
Got it completed as well... After all is done, it's time to send it to the campus international student center by email. Don't forget to make at least one copy for urself. Then, send the hard-copies one to the address listed at your candidate campus website. For the email sending, I was helped by Mas David as well. I have to thank him very much for the kindness on helping me and promoting me to the Professors, too. =D And should I also thank to Mba Pipit that has also spared so much time on me, explained everything she knows to someone has so much questions like me. Feeling so sorry about that, had been disturbing you all so much. XD

After submitted, just wait to see the result on the dates listed. It would be your very excited and hopeful moments ever. I have felt before. Your first fast heart-beating will be at when you gonna submit the application and wait to their respond. After that, it'll be normal again till the moment you got the email from Asia University.

For anyone who also would like to join the class at Asia University, too, don't be hesitate to ask me. I would likely help you as I was helped by the others.
Jia you!!! Just turn your "Nothing is impossible" to "I'm possible"...
Sometimes I will write in Indonesian and sometimes it will be in English.
For this one, I prefer write it in English. Just wanna practice English writing. I have a poor English, actually, so need to make some improvements by this way. 

Why I set this title as "Where there is a will, there is a way"?
That's because I've just experienced an awesome thing I've never had before. Sharing would be the way to inspire people, too. So, what I'm gonna tell you here. That's about STUDYING ABROAD...

Never thought that I will have the chance to further my study outside Indonesia where to study abroad is one of my dreams since I was young. I was planning to get a promising job after school. But, I had ruined all of my plans. I have been admitted in one of Taiwanese Universities now. Hopefully, my decision isn't mistaken. Here, I'd share my processes how to get into the trap to be admitted in a University in Taiwan.

At the beginning (It must be in 2013), I was in my class to have the course "Operation Research" by Mr. Nurhayanto, MBA. He was a student in one of the university in Taiwan. So, while teaching, he often gave us some short course about Mandarin. I thought that he really likes Chinese Culture. I was the only one Indonesian Chinese Student in that class. So, I was always asked about some Chinese character to make sure. It's my pleasure to be in. Although I couldn't recognize all of the characters, it had been fun for me. So, I enjoyed the class all the time.

Sometimes Mr. Nurhayanto would also share his experiences while he's studying in Taiwan. It had inspired me and motivated me to think about broadening my knowledge to the higher education. Since then, my head was surrounded by a lot of thought. My former planning was begun to messed up at that time.

Day by day, I was looking for the information about the enrollment. And it had once that my planning was not running well. So, It's passive for a while. Then, I focused on my thesis totally. I didn't even think about that again. After my thesis done and gonna be graduated, I started to plan it again. At that time, because I had finished my course with Mr. Nurhayanto, I got lost contact with Mr. Nurhayanto. I found hard to communicate with him for information, so I had to find another way to make my application well. Then, I got contact from someone to Brother (Mas) David Agustriawan who is staying in Taiwan and Miss (Mba) Pipit that has already been in Jogja. I made a facebook message with them, then telling them what I was planning to do. Was so pleased that they're very welcome...

So, my processes were running since then. My first task was to prepare for TOEFL ITP Test as their suggestion. And the rest would do later.

So sorry, I haven't finished it yet. It has been a late night, I'm going to sleep. I'd finish it tomorrow. See you... =)

Written at 00.37 WIB (16 Feb '15)
Ada beberapa orang yang berpikiran kalo kuliah tidak bisa sambil bekerja. Siapa bilang??
Memang pada awal perkuliahan, kita membutuhkan waktu untuk adaptasi lingkungan. Tapi, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk bekerja. Jika teman-teman memiliki tekad yang kuat dan menanamkan suatu pemikiran di dalam diri bahwa saya bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik sambil bekerja, pasti bisa dilalui. 

Saya mulai menjalankan freelance saat semester 6 dan hingga saya lulus kuliah. Lumayann buat tabungan, uang SPP, ataupun uang wisuda nanti. Jadi bisa meringankan beban orang tua. Teman-teman saya juga banyak yang sudah memiliki penghasilan sendiri semasa kuliah. Ini yang saya mencontohi dan terinspirasi oleh mereka. Sebenarnya, pada saat kuliah, kita juga bisa mengajukan beasiswa dari Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta). Kopertis ini istilahnya dinas pendidikan yang khusus mengkoordinir perguruan tinggi swasta. Biasanya beasiswanya ada 2 macam, yaitu PPA (Untuk Prestasi) dan BBM (Untuk Mhs Kurang Mampu). Untuk kawan-kawan kita yang sekiranya merasa berat untuk kuliah dan butuh bantuan dana untuk melanjutkan kuliah, jadi tidak perlu takut. Ada banyak beasiswa yang bisa kita ajukan selama perkuliahan. Untuk beasiswa dari Kopertis ini, kita akan mendapatkan dana peengembangan sebesar Rp4.200.000,- per tahun (Rp2.100.000,- /semester). Lumayan kann buat bayar SPP. 

Saya sampe detik terakhir menjelang lulus S1, saya baru merasakan dan sadar bahwa kenapa saya waktu SMA begitu kebingungan dan takut untuk melanjutkan pendidikan karena terkait dana. Dan ada 1 hal lagi, yang penting kita serius buat kuliah dan mempertahankan nilai kita dengan sebaik-baiknya, nantinya akan mudah mendapatkan bantuan dari manapun. Ini saya sekedar share aja, mana tau ada teman-teman adik kelas yang membacanya dan juga merasakan hal yang sama seperti saya ini yang polos dulu. =D

Sesulit-sulitnya kondisi, tidak sesulit menggerakkan hati kita untuk mengambil langkah.
Dan akhirnya, selesai juga studi S1 saya di STMIK AMIKOM Yogyakarta.

Tetap semangat yaa, kawan!!! =D
Bagi teman-teman yang lagi membaca blog saya ini, saya sangat merekomendasikan kepada kalian untuk kuliah di Jogja deh klo terutama yang baru lulus SMA. Jogja sangat nyaman untuk ditinggal dan makanannya murah2... Ada burjo juga... Yang belum ke Jogja, pasti ga tau "Burjo" yaa... Burjo singkatan dari Bubur Kacang Ijo, sebutan yang paling sering digunakan untuk warung makan. Di burjo ini, kamu bisa menemukan makanan Nasi Telur yang hanya berkisar antara Rp 5 - 6 ribu... Lumayan hemat kannn... Jadi, semua orang yang ke Jogja, rata-rata pasti merasakan nyamannya Jogja dan betah banget dah...

Selama kuliah di STMIK Amikom Yogyakarta (Sebutannya Amikom) sangat seru. Dosennya ramah-ramah. Dan mendapatkan banyak pengalaman yang pastinya di sini. Saat semester awal, karena sudah merantau, mau gimanapun harus ada perubahan ke arah yg lebih baik dong... Jadi, saya sejak awal kuliah sudah join organisasi kampus, khususnya organisasi jurusan sih. Jurusan saya Sistem Informasi, nama organisasinya Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Informatika dan Sistem Informasi (HIMMSI). Di HIMMSI ini, saya mendapatkan banyak teman dan pengalaman yang berharga, mulai dari public speaking, cari sponsor utk kegiatan, membuat proposal & laporan, sampe ke bagian tugas ngeprint pernah deh dilakuin. Dari sini, saya yang awalnya pendiam dibuatnya sampe saya seperti saat ini... Mungkin dilihat dari gaya bahasa blog ini sudah bisa diketahui yaa... Mengikuti HIMMSI ini selama 2 tahun. Lalu saya dan teman2 seperjuangan diangkat jadi alumni deh. Setelah itu, tidak ada kegiatan aktif di HIMMSI lagi, saya malah menemukan teman kelompok saya yang kami bentuk dengan nama Tactoo, Inc.

Tactoo, Inc terdiri dari 7 orang (sekelas). Awalnya memang tujuannya untuk bentuk kelompok yang solid untuk mengerjakan tugas2 harian di kampus. Lama-lama, kita iseng2 ikut lomba software di Kampus bernama Amikom ICT Award (AMICTA) pada tahun 2013. Produk yang kami ajukan untuk lomba itu di kategori Research and Development menggunakan aplikasi yang telah kami bikin untuk final project makul Sistem Pakar semester 6. Sebenarnya ada 2 produk yg kami ajuin dan sebenarnya kami lebih percaya diri pada produk yang satunya, bukan yg sistem pakar. Ehh... Tau-taunya, malah Sistem Pakar tersebut yang berhasil meraih Merit Award... This was the way Tactoo, Inc begins...

The first award we got on Amicta 2013
Bener-bener tidak terduga. Setelah mendapatkan Merit Award ini, kita diminta untuk mengikuti seleksi tingkat Nasional oleh kampus yaitu ajang bergengsi Indonesia ICT Award (INAICTA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) RI... Kita juga awalnya ikut dengan pikiran iseng-iseng berhadiah. Karena kita cuma Juara 2 dan produk Juara 1 yang keren banget. Kita cuma pasrah. Kita juga mengikuti proses seleksi dengan baik walaupun pasrah. Jreng jrengg... Hari pengumuman sudah tiba. Pagi-pagi saya bangun dan langsung melihat HP, lalu mengecek di website resmi INAICTA (www.inaicta.web.id). Ternyata nama produk kami (DESA - The Solution for Farming Problem) muncul di halaman websitenya. Artinya, kita lolos menjadi 8 besar (Nominator) se-Indonesia berhasil bersaing dengan mahasiswa dan perusahaan IT di Indonesia. Suatu berkah yang telah diberikan dan saat setelah itu kita menjadi termotivasi untuk menciptakan produk selanjutnya. Sayangnya di INAICTA 2013 kita tidak mendapatkan Winner, Merit, maupun Special Mention Award. Tapi, kita sudah cukup puas dengan hasil ini, karena bisa lolos ke tingkat Nasional yang merupakan impian saya juga sejak saya ikut lomba waktu SMA.
Left: Info Nominator, Up-Right: Presentation, Down-Right: With Pak Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo)
Sungguh luar biasa rasanya bisa mengikuti ajang bergengsi ini. Lalu, akhir tahun 2013, kami mengikuti ajang kompetisi Nasional lagi di Universitas Negeri Yogyakarta bernama ELINFO 2013 dengan kategori Mobile Appication.
Hasil ELINFO 2013
Untuk kali ini, kami berhasil raih juara 1... Syukurlahh.... =)

Singkat cerita, lomba yang terakhir kali ikuti adalah INAICTA 2014. Pada saat mengajukan lomba INAICTA 2014 ini sudah tidak lagi iseng, tetapi sudah melakukan persiapan sebelumnya. Aplikasi yang diajukan adalah aplikasi android bernama Albume dan kami ajukan ke dalam kategori Digital Interactive Media. Tapi sayangnya, kali ini kami gagal lagi untuk meraih yang terbaik dan tidak bisa mengikuti proses berikutnya untuk tingkat Asia Pacific (direncanakan di Pakistan, tapi akhirnya di Jakarta).

Semua proses yang telah dialami, kami jadikan pengalaman yang paling berharga selama ini. Saya tidak berpikiran bisa seperti ini sebelumnya. Belum tentu kalo saya masuk UGM, saya bisa mewakili kampus UGM untuk berbagai ajang yaa, dikarenakan masih banyak anak-anak pinter di sana. Yang pastinya kita jangan memaksakan kondisi jika kondisi tidak memungkinkan. Dan buatlah yang terbaik untuk diri kita sendiri dan kepada orang lain, tentunya. =)

Berikutnya: Baca selanjutnya (Part 3)