Cookies help us deliver our services. By using our services, you agree to our use of cookies. More Info

Mengubah kata PESIMIS menjadi OPTIMIS (Part I)

, , 1 comment
Sedikit bercerita tentang my childhood life.
Sejak kecil saya dibesarin di keluarga yang termasuk sederhana namun juga bisa dikatakan di atas rata-rata dalam segi kemampuan keluarga, karena waktu itu keluarga saya memiliki bisnis sembako di sebuah pulau kecil yang di mana dari atlas dunia bahkan atlas Indonesia sekalipun masih sulit untuk menemukan peta lokasi pulau kecil ini yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, lebih tepatnya di Kabupaten Karimun. Pulau Kundur yang kaya dengan Timah ini merupakan tempat di mana saya dibesarin dan belajar tentang banyak hal.
*Sampai saat ini, jika peta Pulau Kundur diperbesar di Google Maps juga masih belum bisa terlihat dengan jelas untuk jalan-jalannya dan belum bisa terlihat atap-atap rumahnya

Masa kecil saya penuh dengan ketidakkhawatiran dan selalu bermain. Tidak ada masalah yang signifikan seperti kekurangan makanan ataupun sarana/prasarana untuk belajar dengan buku-buku pelajaran yang lengkap (walaupun jikalau dibandingan dengan zaman anak-anak sekarang ini, mereka termasuk sangat jauh lebih baik karena sudah memiliki banyak fasilitas yang jauh lebih bagus seperti komputer, hp, dll), sehingga saya sangat bersyukur. Tetapi, setelah saya naik ke kelas 5 SD, ketidakkhawatiran kami menjadi kekhawatiran pasca musibah kebakaran yang menimpa ke keluarga kami. Semua modal bisnis hancur dan langsung jatuh ke ambang titik 0 di kehidupan ini. Terkait waktu itu saya masih bocah kecil yang tidak tau banyak hal selain bermain dan belajar (tergolong biasa-biasa saja, sering mendapatkan nilai merah di Matematika dan Mulok Arab Melayu), sehingga tidak berdampak terlalu banyak ke diri saya. Namun, yang saya tahu saat itu adalah kehidupan kami jatuh ke level suram, kedua orang tau saya mengalami titik di mana stress banget, tidak memiliki apa-apa, semua modal bisnis habis terbakar begitu saja, dan bahkan ijazah SMP kakak saya juga ikut terbakar, begitu juga kucing dan ikan peliharaan saya juga ikut jadi kucing & ikan bakar deh... *Bercanda... Hahaha... Sedihnya, semua pakaian sekolah kami juga ikut terbakar. Oleh karena itu, kami mendapatkan bantuan BOS dari sekolah berupa pakaian sekolah dan peralatan-peralatan yang bisa menunjang pembelajaran. Bahkan untuk tempat tinggal pun, kami juga menumpang di rumah saudara. Ini kali pertama saya benar-benar merasakan betapa sedihnya dan tidak enaknya menjadi orang-orang yang sangat diperhatikan. Rasa malu untuk menerima bantuan juga muncul saat itu karena keegoisan diriku. Rasa kekhawatiran akan ejekan dan penertawaan dari teman-teman juga muncul. Sejak itu, kehidupan kami berubah 180 derajat deh, dan mulai saat itu, saya mulai bisa "mikir!"...

Sebenarnya masa kecilku juga tidak bagus2 amat, karena saya masih ada keterbatasan dalam memiliki mainan-mainan yang sebenarnya sangat saya inginkan. Karena sejak kecil saya diajarin orang tua untuk harus bisa memilih barang apa yang memang saya butuhkan dan tidak boleh hanya turutin keinginan hati. Walaupun waktu itu saya pernah berontak karena itu yang berakhir dengan kena pukulan dari orang tua, namun sekarang saya sudah mengerti bahwa tujuan dari mereka baik adalah supaya kita tidak boros dan belajar untuk mikir. Selain itu, mereka juga mengajari bahwa uang itu bukan segalanya dan bukan karena dengan memiliki uang banyak kita boleh membeli apa saja dengan tidak mempertimbangkan kebutuhan.

Keterpurukan yang dialami sejak kelas 5 SD inilah yang kemudian membawa diriku untuk selalu berpikir dan berpikir dengan matang sebelum bertindak, hemat, dan harus saling membantu semasih kita mampu.

Hari demi hari, kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru kami dengan tidak ada toko lagi dan menumpang di rumah orang lain. Kehidupan sekolah mulai berjalan seperti biasanya. Hal yang paling saya bersyukur juga karena interaksi saya dan kakak saya dengan orang tua mulai dekat (saat memiliki toko, kita berinteraksi dengan orang tua saat setelah toko tutup). Saat itu, saya juga jadi bisa belajar untuk memasak makanan sendiri (yang basic), seperti goreng telur, masak nasi goreng, indomie (hahaa...), dan goreng ikan/ayam/udang. Cuma kalo yang standar profesional, masih butuh dipelajari ni... Hahaha... Setidaknya bisa yang gampang-gampang dulu deh.

Part II : Baca Selanjutnya

1 comment:

  1. Lucky 5 Casino - Mapyro
    Get 경상북도 출장안마 directions, 전라남도 출장마사지 reviews and 창원 출장샵 information for Lucky 5 Casino in Lemoore 하남 출장마사지 starting at $50. Rating: 5 · ‎1 review 파주 출장샵 · ‎Price range: $$

    ReplyDelete