Pada awalnya, bagi saya, untuk mendapatkan beasiswa apalagi beasiswa luar negeri merupakan suatu hal yang sulit sekali. Bahkan saya tidak pernah berpikiran untuk melanjutkan S2 pada saat saya melanjutkan studi S1 di Jogja. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya (Baca), saya bisa muncul ide tsb hingga saya berani untuk mencoba mendaftarkan diri ke salah satu universitas yang ada di Taiwan (Asia University of Taiwan) adalah seperti itu. Pada awalnya saya hanya sekedar iseng untuk mendaftar setelah terinspirasi oleh salah satu dosen saya, Pak Nurhayanto. Kebetulan kampus S1 saya STMIK AMIKOM Yogyakarta ada menjalin kerjasama dengan Asia University... Jadi, pada saat saya daftar, saya hanya berharap aja mana tau bisa lolos karena ada kerjasama kan ya... Bagi yang mau coba daftar, bisa nii cari tau dulu kampus Anda ada kerjasama dengan kampus mana aja...
Pertama sekali, kita tentunya harus mencari tau tentang calon kampus yang ingin kita daftar yaa. Tidak boleh asal daftar aja. Walaupun kita iseng, kita tetap harus serius dalam menjalani semua prosesnya. Iseng tidak berarti tidak pake usaha LHO...
Jadi, step saya yang pertama setelah mendapatkan info beasiswa dari dosen dan seniorku, saya langsung buka website internasional yang disediakan oleh kampus. Yaa, walaupun aku keturunan Chinese, saya juga sama seperti orang Indonesia lainnya, tidak mahir membaca tulisan mandarin (中文). Taunya dikit-dikit aja. Website yg saya buka adalah ciae.asia.edu.tw. Di sana, saya mengumpulkan informasi syarat-syarat pendaftaran baik pendaftaran sebagai mahasiswa maupun beasiswa. Saya mulai mencari tahu info ini dimulai dari akhir 2013. Dan sudah mulai download form admission. Tapi, sempat pasif juga sih karena faktor ingin mengerjakan skripsi. Target saya lulus S1 sebenarnya 3,5 tahun loo.. Cuma, dari atas berkata lain. Akhirnya saya lulusnya juga 4 tahun kurang sedikit di bulan Agustus 2014 lalu.
Untuk bisa kuliah ke luar negeri tidak seperti flashlight yang ketika kita buka, langsung bisa dituju ke objek yang kita tuju dan langsung diterima dan memberikan feedback bahwa sudah diterima. Kita butuh persiapan juga jauh-jauh hari. Jadi, saya bener-bener siapin dokumen saya mulai sekitar bulan Juni 2014 setelah lulus pendadaran/sidang skripsi. Ketika itu, ternyata form pendaftaran yang sudah saya download sebelumnya sudah hilang ga tau kemana. Padahal formnya itu sudah saya isi sebagian, iseng tapi niat banget kannn....
Jadi akhirnya saya harus download kembali formnya. Sejak itu, saya langsung bikin folder khusus di laptop saya supaya bener-bener bisa saya daftarkan.
| Folder Management walaupun kelihatan kacau sekali |
Inilah folder yang saya bikin supaya semangat. Dan awalnya tidak ada subfolder sebanyak itu, cuma ada form "ApplicationformsAU" aja. Langsung saya isi walaupun ada beberapa bagian yang saya harus siapin dulu, seperti essay for scholarship dan essay for study plan.
Lalu, sambil berpikir essay yang harus saya tulis seperti apa, saya juga harus googling untuk mencari tau essay for applying scholarship abroad bentuknya seperti apa dan sistematika penulisannya harus seperti apa. Dan saya mumet juga bacanya punya mahasiwa lain yang telah diterima di Taiwan. Kita butuh mencari banyak banget referensi yang ada di Google. Bahkan kadang saya bolak-balik hanya mendapatkan link yang sama. Capek dehh... Hehee...
Dan pada saat saya persiapan dokumen (syaratnya harus dilihat di website kampus tujuan yaa), saya langsung add Facebook Fan Page "PPI Taiwan", padahal statusku juga belum jelas yoo... Mau dibilang mahasiswa sana juga bukan. Tapi, saya hanya ingin tau aktivitas mereka yang kuliah di Taiwan gimana. Sempat saya add sembarang orang-orang yang ada di Fan Page tersebut. Hahahaa....
After downloaded the application form, langsung saya persiapkan toefl segala macem. Kebetulan TOEFL Score juga merupakan syarat yudisium supaya bisa wisuda. Cuma kampus saya hanya mensyaratkan 350 untuk score TOEFL sebagai syarat lulus. Sangat jauh dengan syarat masuk kampus luar negeri 500, Broo... XD Gilekk... Dan saya juga belum pernah ikut TOEFL test kan ya, taunya uda sejak SMA sih. Tapi, dalam bayangan saya, untuk mendapatkan nilai tinggi di TOEFL sangat sulit, ga seperti Ujian Nasional... Hahaa....
Dan saya ikut TOEFL Test bersama teman2 seperjuangan saya yg juga mau ngurus yudisium. Waktu itu tesnya di Universitas Islam Indonesia (UII) bayarnya sekitar Rp60.000 kalo ga salah. Besoknya saya ambil sertifikatnya, wahh... Saya pas banget dapet 500 nilai TOEFL. Ga tau kenapa, Reading sulit bangettt.... Walaupun sebenarnya Listening saya nilainya selalu lebih rendah daripada Reading Section.
Uda bersyukur bisa dapat 500 sesuai syarat minimal pendaftaran. Tapi, sayangnya, syarat daftar adalah menggunakan TOEFL ITP (Institutional) yang asli. Sekali tes menghabiskan kantong sekitar Rp360.000. Woww... Jadi, setelah tes di UII, saya mencoba untuk tes yang asli di ELTI Gramedia dekat belakang Gramedia Sudirman Jogja. TOEFL ITP ini setelah tes harus menunggu sekitar 10-14 hari untuk mendapatkan hasil. Makanya, kita harus persiapan jauh-jauh hari. Karena klo mepet harinya dan nilai toefl yang keluar tidak memenuhi syarat, kita harus tes lagi.
Lalu, saat saya mendapatkan hasil Tes TOEFL ITP, mmm... Sangat kecewa banget.... Score TOEFL cuma 497... Whatt!!! Kurang 3 nilainya uda 500. Langsung down melihatnya...
Next: Baca berikutnya
0 comments:
Post a Comment