Cookies help us deliver our services. By using our services, you agree to our use of cookies. More Info
Sedikit bercerita tentang my childhood life.
Sejak kecil saya dibesarin di keluarga yang termasuk sederhana namun juga bisa dikatakan di atas rata-rata dalam segi kemampuan keluarga, karena waktu itu keluarga saya memiliki bisnis sembako di sebuah pulau kecil yang di mana dari atlas dunia bahkan atlas Indonesia sekalipun masih sulit untuk menemukan peta lokasi pulau kecil ini yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, lebih tepatnya di Kabupaten Karimun. Pulau Kundur yang kaya dengan Timah ini merupakan tempat di mana saya dibesarin dan belajar tentang banyak hal.
*Sampai saat ini, jika peta Pulau Kundur diperbesar di Google Maps juga masih belum bisa terlihat dengan jelas untuk jalan-jalannya dan belum bisa terlihat atap-atap rumahnya

Masa kecil saya penuh dengan ketidakkhawatiran dan selalu bermain. Tidak ada masalah yang signifikan seperti kekurangan makanan ataupun sarana/prasarana untuk belajar dengan buku-buku pelajaran yang lengkap (walaupun jikalau dibandingan dengan zaman anak-anak sekarang ini, mereka termasuk sangat jauh lebih baik karena sudah memiliki banyak fasilitas yang jauh lebih bagus seperti komputer, hp, dll), sehingga saya sangat bersyukur. Tetapi, setelah saya naik ke kelas 5 SD, ketidakkhawatiran kami menjadi kekhawatiran pasca musibah kebakaran yang menimpa ke keluarga kami. Semua modal bisnis hancur dan langsung jatuh ke ambang titik 0 di kehidupan ini. Terkait waktu itu saya masih bocah kecil yang tidak tau banyak hal selain bermain dan belajar (tergolong biasa-biasa saja, sering mendapatkan nilai merah di Matematika dan Mulok Arab Melayu), sehingga tidak berdampak terlalu banyak ke diri saya. Namun, yang saya tahu saat itu adalah kehidupan kami jatuh ke level suram, kedua orang tau saya mengalami titik di mana stress banget, tidak memiliki apa-apa, semua modal bisnis habis terbakar begitu saja, dan bahkan ijazah SMP kakak saya juga ikut terbakar, begitu juga kucing dan ikan peliharaan saya juga ikut jadi kucing & ikan bakar deh... *Bercanda... Hahaha... Sedihnya, semua pakaian sekolah kami juga ikut terbakar. Oleh karena itu, kami mendapatkan bantuan BOS dari sekolah berupa pakaian sekolah dan peralatan-peralatan yang bisa menunjang pembelajaran. Bahkan untuk tempat tinggal pun, kami juga menumpang di rumah saudara. Ini kali pertama saya benar-benar merasakan betapa sedihnya dan tidak enaknya menjadi orang-orang yang sangat diperhatikan. Rasa malu untuk menerima bantuan juga muncul saat itu karena keegoisan diriku. Rasa kekhawatiran akan ejekan dan penertawaan dari teman-teman juga muncul. Sejak itu, kehidupan kami berubah 180 derajat deh, dan mulai saat itu, saya mulai bisa "mikir!"...

Sebenarnya masa kecilku juga tidak bagus2 amat, karena saya masih ada keterbatasan dalam memiliki mainan-mainan yang sebenarnya sangat saya inginkan. Karena sejak kecil saya diajarin orang tua untuk harus bisa memilih barang apa yang memang saya butuhkan dan tidak boleh hanya turutin keinginan hati. Walaupun waktu itu saya pernah berontak karena itu yang berakhir dengan kena pukulan dari orang tua, namun sekarang saya sudah mengerti bahwa tujuan dari mereka baik adalah supaya kita tidak boros dan belajar untuk mikir. Selain itu, mereka juga mengajari bahwa uang itu bukan segalanya dan bukan karena dengan memiliki uang banyak kita boleh membeli apa saja dengan tidak mempertimbangkan kebutuhan.

Keterpurukan yang dialami sejak kelas 5 SD inilah yang kemudian membawa diriku untuk selalu berpikir dan berpikir dengan matang sebelum bertindak, hemat, dan harus saling membantu semasih kita mampu.

Hari demi hari, kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru kami dengan tidak ada toko lagi dan menumpang di rumah orang lain. Kehidupan sekolah mulai berjalan seperti biasanya. Hal yang paling saya bersyukur juga karena interaksi saya dan kakak saya dengan orang tua mulai dekat (saat memiliki toko, kita berinteraksi dengan orang tua saat setelah toko tutup). Saat itu, saya juga jadi bisa belajar untuk memasak makanan sendiri (yang basic), seperti goreng telur, masak nasi goreng, indomie (hahaa...), dan goreng ikan/ayam/udang. Cuma kalo yang standar profesional, masih butuh dipelajari ni... Hahaha... Setidaknya bisa yang gampang-gampang dulu deh.

Part II : Baca Selanjutnya
Hello, guys!
This time, I'm going to tell you about Taiwan...
After coming here for about 3 months now, I must have known about Taiwan Background. So, I wanna share with you all what I've got till this moment. 

Last time, I shared to you about the Taboos of Taiwan. Here you'll see something different but the basic one we should know when we're staying here or touring to Taiwan. 








Taiwan is also called as "Zhong Hua Min Guo" or Republic of China (ROC) Taiwan
For someone who has never been in Taiwan before and is going to visit Taiwan one day, when you're making your VISA, it will be shown as "ROC (Taiwan)" 


 I'm not really sure about when the election will be started again. 
But, now, the President of Taiwan is Mr. Ma Ying-Jeou

 Taiwan is also well-known with its numerous of religious temples, especially Taoism and Buddhism Temple. We're not be hard to find any of it anywhere. 
Undoubtedly, there are some other religions that Taiwanese believe in, Christian, Catholics, and Islam.

 All of us must agree that if we're able to speak in English, we can explore around the world, because of the worldwide language. Somehow we're also questioning and worrying of the language we will use before vacation to the country with non-English as their first language. Like Asia, the countries where the people will speak in their mother tongue, urges us to learn the language for secure before visiting. 

What about Taiwan? 

Taiwan is a Chinese Country. All of the populations are mostly covered by Chinese and has some Aboriginal Taiwanese. By here we can see that there're 4 languages they're commonly using. An official language of Taiwan is Chinese/Taiwanese Mandarin. Mandarin nowadays is also mentioned as a 2nd popular language used in the world. So, don't be hesitate to learn Mandarin as you are the most welcome. 

 My hometown (Indonesia), we only have 2 seasons. 
Lying in tropical region makes us only have Hot and Raining season for the whole year. 

Taiwan has 4 seasons in total, same like western countries. 
In here, we can experience different weather of the season changes. Once I heard that Taiwan has winter but no snow we can find in the city. The only way to see the snow is going to the peak of the mountain. And, I really would like to feel the snowy places. Hopefully, in this winter, I will be able to touch the snow by myself... 
*The special thing for me who is from tropical country


I do hope you all can enjoy my blog.
This is the first part of my articles about Taiwan. 
If you have any comments, feel free to fill it in the comment field. ^_^
Like and Share this blog is also preferably.
Have a nice day!!!


On 17 March 2015 - M Building Asia University, Taiwan (#latepost)

In Asia University, it has event organized by International College here. International College or we called it "IC" is a college that manages the international students coming from many countries, include full-time and exchange students. It can be Indonesia, Thailand, France, Japan, Korea, India, Mongolia, Vietnam, Mexico, Malaysia, China, and many more.

Every year, they hold the events, like International Food Festival. It's always held in the day of Campus Birthday. In this event, we get chance to taste the food from the other countries. The participants are all the students from the different countries. Everyone is welcome to visit and to taste. Beside that, there were the performances from the students. Singing, dancing, and costumes introduction were being the side event in it.

At that time, we were wearing Batik (one of the Indonesian traditional costumes we proud of) to introduce it to all of the audiences. For the food, Indonesian students served the soup cuisine with vermicelli noodles (Bahasa: Bihun) to the visitors, it's what we called "Soto". And we also provided the Indonesian style home-made milk mixing with ginger, eggs, and honey in it. You can call it "STMJ (Susu Telur Madu Jahe)".

Presentation from Indonesian
In the introduction section, I was pointed to be the presenter about our fashion we're wearing with the others. We presented in both English and Chinese, which in Chinese language was presented by Vivian, the 4th year student who is studying for her bachelor degree here. It's my pleasure as one of the persons to be in front of the whole participants and visitors. It would be my new experience here. Really really not been prepared as well... So, the natural speaking did at that moment. I was wondering if some speaking mistakes and missing ideas were made or not. Hahaa... So funny, though.
-------------------------------------------------------------------------
And absolutely we made some preparations before the food fair. It's mostly done by the girls for sure in the cooking section. Haha... The girls will always be used to do it. No doubt for that... =D


So, HERE WE ARE... Indonesian Students in Asia University in 2015. *Still has some other indonesian here, but they were just in case of having other activity, so they were not shown up in this pict.

This is one of my Chinese homework I did. It's all about the taboos we should prevent to do in Taiwan. So, it's a good time to share with u all.



















Kuliah di luar negeri merupakan impian semua orang. Dan tidak sedikit juga dari kita mahasiwa yang merasa minder sebelum melangkah. Hanya dengan cita-cita dan khayalan waktu kecil bisa membawa kita menuju ke cita-cita yang kita impikan. Ini FAKTA!!!

Hal ini telah dirasakan oleh saya pribadi. Saat ini, saya telah menjalani perkuliahan +/- 1 bulan di Asia University, Taiwan. Suasana perkuliahan memang berbeda dengan suasana di Indonesia. Tapi, tidak juga memberikan suasana yang mengerikan bagi kita yang sebagai orang asing di negeri orang. Perasaan GALAU pasti akan dialami semua orang ketika ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Dan rasa persiapan yang belum matang juga menjadi faktor penyebab MINDER bagi kita. Kenyataannya, jika kita friendly terhadap nature, nature akan baik juga dengan kita. Yang paling penting adalah STAY "RAMAH".

Taiwan berbeda dengan western country, masih dalam benua Asia. Oleh karena itu, beberapa budaya masih hampir sama. Jika kita sebagai orang Indonesia, kita masih bisa lumayan cepat adaptasi. Kesopanan dan tata krama masih menjadi prioritas di sini.

Pada saat pertama kali saya kuliah, hal pertama yang saya tanyakan adalah bahasa apa yang digunakan dalam sistem pengajaran. Di Taiwan, bahasa nasional mereka adalah bahasa Mandarin. Untuk tulisan mandarin yang digunakan adalah Traditional Chinese, sedangkan Simplified Chinese malah digunakan di negara utama Chinese yaitu di China (Tiongkok). Perbedaannya sangat signifikan dan sangat rumit untuk traditional chinese character. Contohnya: Hall, untuk Traditional (廳) dan untuk simplified hanya seperti ini (厅), kedua-duanya bacanya "Ting". Sangat jauh berbeda, bukan? Nah, pertanyaan saya akhirnya dijawab oleh dosen. Untuk semester 1 ini, saya mengambil 4 kelas teori-praktik dan 2 kelas lagi kelas mandarin. Untuk perkuliahannya, menggunakan Bahasa Inggris dan Mandarin (Bilingual). Karena kita bergabung dengan mahasiswa Taiwan (yang pada umumnya lebih jago mandarin), sehingga dilakukan 2 kali pengulangan.


Ini adalah salah satu kelas di sini. Pada saat itu, saya iseng ikut mendengarkan perkuliahan untuk mahasiswa S1 di mata kuliah Behavior Finance. Kelas ini kebanyakan mahasiswa dari Mongolia dan beberapa dari Thailand dan Finlandia. Untuk kelas S1, jumlah mahasiswanya sekitar 40an. Sempat merasa WOW, karena di kelas saya (S2) paling banyak hanya 7 mahasiwa. Dan pernah juga saya kuliah hanya face-to-face dengan dosen. Hehee... Tapi, untungnya ga masalah. =)

Untuk perkuliahan di sini, suasananya sangat santai dan tidak ada beban. Walaupun sebenarnya untuk materinya juga ada beberapa yang cukup mumetin, tapi overall masih OK. Dan keuntungan kita kuliah di Taiwan adalah karena Taiwan negara bagian dari Asia, Bahasa Inggris bukan mother tongue mereka. Oleh karena itu, bahasa inggris tidak menjadi prioritas bagi mereka dan orang Taiwan di sini bisa sama-sama memaklumi.

Mungkin bagi saya, salah satu mata kuliah yang cukup sulit adalah Seminar. Seminar di sini, kita harus mempersiapkan materi-materi untuk dipresentasikan. Materi-materinya adalah jurnal ilmiah. Mengapa sulit? Karena kita menghadapi jurnal-jurnal dengan topik yang belum kita tau sama sekali. Di dalam sebuah jurnal, juga mencakup beberapa topik yang digabungkan untuk menghasilkan sebuah result. Jadi, kita mesti mencari tahu asal-muasal dari setiap topik-topik yang tercakup di dalamnya.

Oke deh, saatnya tidur. Lanjut lagi di kemudian waktu. Sampai jumpa lagi!!! =D

Taiwan Lantern Festival 2015

Well, after about a month here in Taiwan, I got the time to update my blog to u again. Time always goes so fast, like a flashlight. And unconsciously we're getting older and older day by day. It's not the problem, actually. Still we can keep our spirit like the past.

So, now, I'm gonna share with u about my lifetime in Taiwan for about a month here. At the first time arriving in Taiwan is very astonished. Being so amused, as that going abroad especially the country far away from Southeast Asia is my target since a long time ago. So, I felt that something came to me as I wished. It's such a lucky thing I had. In my college time, I was used to living in one of the coziest places in Indonesia I have ever stayed, that is Yogyakarta, a city with full of culture and culinary and also tourist's sight-seeing. Jogja has caught my heart ever. Such a lovely place u must visit. And Taiwan also gives me the sense like it.

The peoples around are always ready to help you when you need. The weather is also comfortably (for me, Indonesian). But, in the sunny day, the sun will kill you. Overall is very cozy to stay. And the food is also spreading along the street when we're going to Night Market. The price is reasonable. Comparing with Indonesia's, I think it's costly/higher than Yogyakarta's but cheaper than Jakarta's.

Many places of interest can be reached by bus easily. And taking bus also the best way for u who want to live economically, because it's costless with the bus within 8 km in Taichung (I'm living here). As I don't want to pay any for sometimes, I usually make a transit before at the end of 8 km point. And then, take another bus to get to our destination. It's a good idea, isn't it?

In Taiwan, I have been in some places/events that are free of charge, like Lantern Festival and Mt. Ba Gua Big Buddha. Yet, some certain places are also needed to pay. It won't cost much, anyway.


Mt. Ba Gua Big Buddha - 八卦山大佛

Sun Moon Lake - 日月潭

It has been a long time I put it away to write a blog.
So, today I have a story about a dinner... Just in case we didn't know what we're going to eat, so suddenly the ideas came up from my buddy, Ti (Thailand). Actually, we would like to cook "SUNNY SIDE UP", but we FAILED... Hahaa... At the beginning, we've prepared all the tools and equipment to fry. Then, we went out to buy the eggs. When we're arriving in the kitchen, we realized that the stove is not working properly. So, we got an alternative way to cook it on the rice cooker. And, it works. Unluckily, we've messed the eggs up. No Sunny Side Up made. Finally, we just decided to make it scrambled. At the end, Scrumble egg was served.

Scrumble Egg Ala Chef Ti from Thailand and the helper me