Cookies help us deliver our services. By using our services, you agree to our use of cookies. More Info
Ok, kita lanjut ke artikel part 2 ini.
Setelah sebelumnya, saya menceritakan my childhood life, ini saya ingin menceritakan gimana cara saya mengubah pemikiran pesimis menjadi optimis.
Saya yakin, semua orang pasti memiliki rasa pesimis. Hanya perbandingan "Pesimis" dan "Optimis" yang berbeda-beda. Ada yang terlahir dengan pesimis yang tinggi, mungkin mencapai 80%. Ada juga rasa Optimisnya tinggi mencapai 80%, sehingga kehidupannya baik-baik saja dan senang-senang saja, seperti tidak ada beban.

Terkadang saya berpikir, kenapa kita bisa menjadi pesimis, hal ini dikarenakan kita ingin kehidupan kita menjadi perfect (perfeksionis), namun, dengan ketidakmampuan dari diri kita menyebabkan kita menjadi pesimis. Target yang ingin kita capai sangat jauh, tidak sebanding dengan kenyataan yang kita hadapi. Sebenarnya kita bisa mengubahnya dan perlu menurunkan target tersebut dengan tidak melupakan target kita yang sebelumnya.

Untuk menjadi optimis bagi saya seharusnya tidak terlalu sulit, hanya tergantung dari diri kita. Hal-hal yang perlu kita lakukan adalah "Set Mind to be Positive", selalu berdoa, dan menumbuhkan rasa percaya diri, siap untuk gagal, dan tidak menghiraukan omongan/pandangan orang lain terhadap kita. Mungkin beberapa cara ini termasuk yang sangat biasa dan sering disarankan oleh teman-teman kita atau orang-orang pada umumnya. Cuma penerapannya yang sulit, karena apa yang kita kerjakan pada umumnya jarang terjadi 100% sama dengan apa yang kita pikirkan. XD Nyesek juga ya.

Di sini yang butuh kita tekankan di bagian "Set Mind". Sering saya alami bahwa diri kita itu sering muncul pemikiran yang kurang mendukung apa yang kita ingin lakukan, seperti muncul hal-hal yang mematahkan semangat. Contohnya, saya ingin jalan-jalan ke luar negeri (dengan kondisi sekarang yang lagi kere alias sulit dalam keuangan). Karena kesulitan keuangan yang kita sekarang alami membuat kita menjadi tidak yakin untuk bisa ke luar negeri yang akhirnya tidak jadi deh dan men-delete goal ini. Biasanya kalo terjadi hal itu di diriku, kita tidak boleh langsung patah semangat, dan harus yakin bahwa suatu saat nanti pasti ada kesempatan yang jatuh dari langit.

Saya masih ingat bahwa dulu pada saat saya SMA kelas 3, di mana masa-masa itu adalah kita GALAU karena mau menghadapi UN dan juga harus memilih universitas/perguruan tinggi yang akan kita tuju. Pada saat itu, keluarga saya sebenarnya tidak begitu mampu untuk mengkuliahkan saya sedangkan saya sangat optimis dan rasa pingin kuliah yang tinggi supaya kehidupan masa depan lebih cerah, istilahnya. Tidak lupa juga sifat agak keras kepalanya saya juga membawakanku untuk mencapai target yang saya inginkan tsb. Waktu itu, step yang saya lakukan adalah mencari beasiswa S1. Sebenarnya kampus yang paling saya inginkan adalah UG* dan maunya di Jogja aja, karena pingin melihat Borobudur dan karena Jogja konon katanya adalah kota pelajar (target simple). Karena keterbatasan keuangan yang dialami semenjak pasca kebakaran dan didukung dengan ingin ada perubahan dari kehidupan yang sebelumnya, jadi, mau gak mau harus semangat. Supaya bisa kuliah tanpa harus takut akan masalah keuangan, yaaa, harus cari beasiswa. Jadi, saat itu saya mencoba 2 kampus dengan tawaran beasiswa FULL, yaitu kampus swasta Univ. Par******a di Jakarta, dan kampus negeri UG* di Jogja. Waktu itu lumayan optimis sih, namun rasa pesimis juga ada. Tapi, tetap berjuang deh yang terbaik. Sebenarnya gak enak juga waktu itu telah merepotkan banyak pihak, seperti guru2 dan orang tua. Utk kampus negeri, saya gagal, tapi tetap optimis, karena masih punya pilihan kedua. Dan selanjutnya yang swasta, saya lolos sampe tahap terakhir, namun terakhir gagal. Kepanikan dan Pesimis muncul, no other choice. Namun, tetap tidak ingin hidupku berhenti di situ aja dan bagaimanapun harus bisa kuliah di Jawa. Jadi, mulailah saya mencari kampus dengan biaya yang lumayan murah tetapi juga tidak jelek. Dan akhirnya aku ketemu kampus STMIK Amikom Yogyakarta yang menjadikan tempat di mana saya bisa menyelesaikan impianku S1, yang pastinya tidak terlepas dari bantuan saudara dan orang tua saya sendiri.

Sebelum saya memulai perkuliahan S1, sebenarnya saya hanya set target sampai dengan S1 sudah cukup. Dan mungkin karena ada 1 mitos yg lucu dari keluarga saya, saya bersama 3 kakak saya memiliki level pendidikan yang bertingkat, apa maksudnya? Jadi begini, kakak saya pertama lulus SD, kakak kedua hanya mendapatkan ijazah SMP (sbnrnya ada sampe SMA kelas 2), kakak ketiga SMA, dan mungkin saja saya cuma sampe S1. Jadi, saya waktu itu cuma set Target sampe S1 sudah cukup dan lanjut bekerja setelah lulus dengan maksud tidak ingin membebankan orang tua.

Mulai awal perkuliahan S1, kami diikutkan ke dalam program seperti motivasi oleh kampus. Kita diajarin supaya selalu positive thinking. Dan kita disuruh membuat list keinginan/impian/target yang ingin kita capai ke depannya dan harus tempel di kamar kita masing-masing. Di samping itu, kita juga disadarkan oleh tentor-tentor akan sulitnya orang tua kita selama ini untuk membesarkan kita dari kecil hingga kita saat ini. Saat itu, yang saya tulis adalah "Ingin keliling dunia", karena salah satu impian dari kecil saya adalah jadi Pilot. Tapi, saya tidak pernah memikirkan untuk bisa mencapai hal itu. Saat ini saya sudah melanjutkan perkuliahan S2 di Taiwan (Luar Negeri) dengan beasiswa (karena gagal mendapat beasiswa S1, malah mendapat beasiswa S2) yang sebenarnya tidak termasuk list impian saya dan hanya bagian minor dari target ingin keluar negeri. Dan ini tercapai dengan tidak sadar, hanya dengan kita selalu keep positive dan mengikuti target yang kita ingin capai dengan tidak tau bagaimana caranya.

Jadi, di sini saya bisa simpulkan bahwa hanya dengan always be positive dan memiliki target untuk diri kita sendiri, bisa membawakan kita menjadi "ORANG". Sekarang saya ingin mendukung teman-teman untuk menjadi lebih positif aja di kehidupan teman2 dan juga menjaga untuk tetap positif bagi saya pribadi, kalo misal mengalami masalah, tetap stay positive aja. Tidak ada orang yang tidak memiliki masalah, hanya kasusnya berbeda saja. Dan jangan pesimis juga dengan hal-hal misalnya anda berasal dari kota/desa kecil (bahwa orang dari kota selalu mendapatkan kesempatan yang lebih bagus), karena saya juga dari kota kecil. Karena kita berasal dari pulau/desa kecil, justru kita harus bisa menyaingi orang-orang yang di kota besar, membuktikan bahwa semua manusia itu sama dengan kapasitas/kemampuan otak yang sama. Orang kota memiliki kemampuan yang lebih karena mereka mendapatkan fasilitas yang lebih bagus, sedangkan kita dari desa jarang menemukan hal-hal yang mereka bisa temukan. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk melihatnya, kita juga bakal tau dan mengerti dan menjadi sama levelnya seperti apa yang orang kota punyai. Yang terakhir, kita juga perlu ingat bahwa "Di atas langit masih ada langit!". We can do it!

Di sini sebagai bentuk motivasi saya juga ingin berbagi dan meyakinkan bahwa kita semuanya BISA dan bisa go International!
Sertifikat Lomba Essay antar mahasiswa Internasional se-Taiwan (Top 5)




http://www.fichet.org.tw/2015CFS1/stories/winners

Ranking 6 Lomba Dragon Boat di Changhua - Taiwan (Tim Kampus)
Sedikit bercerita tentang my childhood life.
Sejak kecil saya dibesarin di keluarga yang termasuk sederhana namun juga bisa dikatakan di atas rata-rata dalam segi kemampuan keluarga, karena waktu itu keluarga saya memiliki bisnis sembako di sebuah pulau kecil yang di mana dari atlas dunia bahkan atlas Indonesia sekalipun masih sulit untuk menemukan peta lokasi pulau kecil ini yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, lebih tepatnya di Kabupaten Karimun. Pulau Kundur yang kaya dengan Timah ini merupakan tempat di mana saya dibesarin dan belajar tentang banyak hal.
*Sampai saat ini, jika peta Pulau Kundur diperbesar di Google Maps juga masih belum bisa terlihat dengan jelas untuk jalan-jalannya dan belum bisa terlihat atap-atap rumahnya

Masa kecil saya penuh dengan ketidakkhawatiran dan selalu bermain. Tidak ada masalah yang signifikan seperti kekurangan makanan ataupun sarana/prasarana untuk belajar dengan buku-buku pelajaran yang lengkap (walaupun jikalau dibandingan dengan zaman anak-anak sekarang ini, mereka termasuk sangat jauh lebih baik karena sudah memiliki banyak fasilitas yang jauh lebih bagus seperti komputer, hp, dll), sehingga saya sangat bersyukur. Tetapi, setelah saya naik ke kelas 5 SD, ketidakkhawatiran kami menjadi kekhawatiran pasca musibah kebakaran yang menimpa ke keluarga kami. Semua modal bisnis hancur dan langsung jatuh ke ambang titik 0 di kehidupan ini. Terkait waktu itu saya masih bocah kecil yang tidak tau banyak hal selain bermain dan belajar (tergolong biasa-biasa saja, sering mendapatkan nilai merah di Matematika dan Mulok Arab Melayu), sehingga tidak berdampak terlalu banyak ke diri saya. Namun, yang saya tahu saat itu adalah kehidupan kami jatuh ke level suram, kedua orang tau saya mengalami titik di mana stress banget, tidak memiliki apa-apa, semua modal bisnis habis terbakar begitu saja, dan bahkan ijazah SMP kakak saya juga ikut terbakar, begitu juga kucing dan ikan peliharaan saya juga ikut jadi kucing & ikan bakar deh... *Bercanda... Hahaha... Sedihnya, semua pakaian sekolah kami juga ikut terbakar. Oleh karena itu, kami mendapatkan bantuan BOS dari sekolah berupa pakaian sekolah dan peralatan-peralatan yang bisa menunjang pembelajaran. Bahkan untuk tempat tinggal pun, kami juga menumpang di rumah saudara. Ini kali pertama saya benar-benar merasakan betapa sedihnya dan tidak enaknya menjadi orang-orang yang sangat diperhatikan. Rasa malu untuk menerima bantuan juga muncul saat itu karena keegoisan diriku. Rasa kekhawatiran akan ejekan dan penertawaan dari teman-teman juga muncul. Sejak itu, kehidupan kami berubah 180 derajat deh, dan mulai saat itu, saya mulai bisa "mikir!"...

Sebenarnya masa kecilku juga tidak bagus2 amat, karena saya masih ada keterbatasan dalam memiliki mainan-mainan yang sebenarnya sangat saya inginkan. Karena sejak kecil saya diajarin orang tua untuk harus bisa memilih barang apa yang memang saya butuhkan dan tidak boleh hanya turutin keinginan hati. Walaupun waktu itu saya pernah berontak karena itu yang berakhir dengan kena pukulan dari orang tua, namun sekarang saya sudah mengerti bahwa tujuan dari mereka baik adalah supaya kita tidak boros dan belajar untuk mikir. Selain itu, mereka juga mengajari bahwa uang itu bukan segalanya dan bukan karena dengan memiliki uang banyak kita boleh membeli apa saja dengan tidak mempertimbangkan kebutuhan.

Keterpurukan yang dialami sejak kelas 5 SD inilah yang kemudian membawa diriku untuk selalu berpikir dan berpikir dengan matang sebelum bertindak, hemat, dan harus saling membantu semasih kita mampu.

Hari demi hari, kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru kami dengan tidak ada toko lagi dan menumpang di rumah orang lain. Kehidupan sekolah mulai berjalan seperti biasanya. Hal yang paling saya bersyukur juga karena interaksi saya dan kakak saya dengan orang tua mulai dekat (saat memiliki toko, kita berinteraksi dengan orang tua saat setelah toko tutup). Saat itu, saya juga jadi bisa belajar untuk memasak makanan sendiri (yang basic), seperti goreng telur, masak nasi goreng, indomie (hahaa...), dan goreng ikan/ayam/udang. Cuma kalo yang standar profesional, masih butuh dipelajari ni... Hahaha... Setidaknya bisa yang gampang-gampang dulu deh.

Part II : Baca Selanjutnya